CRUDE FIBRE DIGESTIBILITY OF BABIRUSA (Babyrousa babyrussa)
WHICH FEED WITH WATER SPINACH AND SWEET POTATO
IN SURABAYA ZOO
Nur Purba Priambada
ABSTRACT
Babirusa (Babyrousa babyrussa) is one of the Indonesian vulnerable endemic animal species. The digestive system of babirusa is different from other non ruminant animals. The aim of this study is to measure the crude fibre digestibility of babirusa which feed with water spinach and sweet potato in Surabaya Zoo. Food and feacal sample were collected from two groups of adult animals, male and female, which is each group consist of two animals. The sample was analyzed for dry matter and crude fibre values using Weendee’s proximate analyses. The digestibility measured by comparing the value of crude fibre of feed intake to feaces. The result shown that crude fibre digestibility in babirusa which feed with water spinach and sweet potato is about 83,4% + 4,91.
Keyword : Babirusa, crude fibre, digestibility, Surabaya Zoo
KECERNAAN SERAT KASAR PADA BABIRUSA
(Babyrousa babyrussa) YANG DIBERI PAKAN
KANGKUNG DAN KETELA
DI KEBUN BINATANG SURABAYA SURABAYA
Nur Purba Priambada
ABSTRAK
Babirusa (Babyrousa babyrussa) adalah salah satu spesies satwa endemik yang berstatus “vulnerable”. Sistem pencernaan babirusa sangat berbeda bila dibandingkan dengan hewan non ruminant lainnya. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengukur kecernaan serat kasar babirusa yang diberi pakan kangkung dan ketela di Kebun Binatang Surabaya. Sampel makanan dan feses dikoleksi dari dua grup hewan dewasa yaitu jantan dan betina, yang masing-masing terdiri dari dua ekor babirusa. Sampel dianalisa untuk serat kasar dan bahan kering dengan menggunakan metode analisa proksimat Weendee. Nilai kecernaan diukur dengan membandingkan nilai serat kasar dari pakan yang dikonsumsi dengan nilai serat kasar dari feses. Hasil menunjukkan bahwa kecernaan serat kasar pada babirusa yang diberi pakan kangkung dan ketela adalah 83,4% + 4,91.
Kata kunci : babirusa, serat kasar, kecernaan, Kebun Binatang Surabaya.
Pendahuluan
Babirusa (Babyrousa babirussa) adalah salah satu kekayaan hayati Indonesia yang mengalami tekanan dan penurunan baik kualitas dan kuantitasnya adalah. Sejak tahun 1996 oleh Red Data Book - International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), babirusa ditetapkan dalam status vulnerable atau beresiko untuk punah. Barulah pada 2006, oleh IUCN status babirusa di modifikasi menjadi VU1cd (vulnerable tipe 1cd). Conservation on International Trade in Endangered Species (CITES) juga telah mencantumkan mencantumkan babirusa dalam Appendix 1(CITES 2007).
Reksowardojo (1995) dalam Glen (2006) mengatakan bahwa penurunan populasi dari hewan ini akan tetap berlanjut akibat terjadinya kerusakan habitat, perburuan, predator dan penyakit. Maka dari itu perlu dilakukan beberapa usaha seperti yang diungkapkan oleh Sudrajat (1991) dalam Glenn (2006), bahwa pelestarian dan perlindungan sumber kekayaan alam telah dilakukan pemerintah, yaitu dengan pembuatan kawasan konservasi yang meliputi suaka marga satwa, taman nasional, hutan wisata, kebun binatang, kebun koleksi, kebun botani serta telah dilakukannya kegiatan penangkaran jenis-jenis satwa yang dilindungi.
Salah satu usaha untuk pelestarian babirusa adalah penangkaran. Penangkaran ialah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya (Sertifikat Nasional Indonesia 01-5009.9-2001). Salah satu lokasi penangkaran babirusa yang ada di Indonesia adalah Kebun Binatang Surabaya (KBS). Sudrajat (1991) dalam Glenn (2006) menyatakan bahwa hewan yang dipelihara dengan tujuan tertentu dan melalui seleksi yang ketat akan menimbulkan perubahan daya tahan terhadap lingkungannya. Diduga hewan yang ditangkarkan akan mengalami perubahan daya hidupnya, dan hal ini dapat menyebabkan perubahan tingkah lakunya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan kondisi di alam liar dan di tempat penangkaran. Perbedaan yang sangat mencolok adalah pakan. Babirusa di alam liar tidak hanya memiliki kesukaan terhadap buah dan biji-bijian, melainkan juga daun-daunan, rumput-rumputan, jamur, invertebrata, vertebrata kecil dan hasil kebun (Leus et al., 2001). Pakan dari babirusa yang ditangkarkan di KBS adalah kangkung dan ketela (Glenn, 2006).
Banyak penelitian yang telah berlangsung, dan dikatakan bahwa babirusa tergolong sebagai non ruminant foregut fermenting frugivore / concentrate selector atau hewan non-ruminan pemakan buah-buahan dan konsentrat yang melakukan fermentasi pada perut bagian depan (Leus et al., 2003).
Materi dan Metode
Penelitian ini menggunakan sampel empat ekor babirusa. Dua ekor babirusa betina pada kandang B1 dengan umur sekitar delapan tahun dan pada kandang B3 dengan umur sekitar 5 tahun. Dua ekor babirusa jantan pada kandang B2 dengan umur sekitar 7 tahun dan pada kandang C2 dengan umur sekitar 2 tahun. Bahan penelitian yang digunakan adalah pakan dari babirusa yang berupa kangkung dan ketela serta feses dari 4 ekor babirusa.
Keempat babirusa diberi pakan sebanyak 1 kg untuk kangkung (diberikan utuh) dan 2,5 kg untuk ketela (dipotong -potong terlebih dahulu dengan ketebalan + 5 cm). Jumlah konsumsi pakan dari babirusa selalu dihitung. Pemberian pakan sehari sekali pada pagi hari. Setelah melewati 3 hari masa adaptasi, feses mulai dikoleksi sebanyak tujuh kali. Feses selalu dalam kondisi sesegar mungkin dan ditimbang selalu. Kemudian sampel pakan dan feses dianalisi kadar serat kasarnya dengan metode analisi proksimat Weendee (Setyono, dkk., 2007). Hasil pemeriksaan serat kasar dengan pendekatan bahan kering dilanjutkan dengan analisis kecernaan serat kasar. Data dari hasil kecernaan serat kasar dirata-rata dan kemudian dihitung nilai Standar Deviasinya.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil kecernaan serat kasar pada masing-masing babirusa sebagai berikut, babirusa pada kandang B1= 76,25%, B2 = 89,86%, B3 = 82,46%, dan C2 =85,08%. Rata-rata hasil kecernaan serat kasar babirusa pada penelitian ini sebesar 83,4% + 4,91.
Tabel 4.3 Kecernaan Serat Kasar Babirusa (persen)
Babirusa pada kandang Kecernaan serat kasar (%)
B1 76,25
B2 89,86
B3 82,46
C2 85,08
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil dari kecernaan hewan. Faktor-faktor tersebut seperti komposisi pakan, imbangan protein, jenis hewan, perlakuan pada pakan dan jumlah pakan (Tillman dkk., 1991). Pond et al. (2005) juga menuliskan bahwa hal-hal yang dapat mempengaruhi pemanfaatan nutrien pada hewan adalah spesies hewan, umur, tipe dari saluran pencernaan, tingkat konsumsi, bentuk fisik pakan, adanya penyakit menular maupun parasit pada hewan, dan keseimbangan serta interaksi nutrien dalam pakan.
Pakan utama babirusa di Kebun Bintang Surabaya adalah ketela dan kangkung. Ketela dan kangkung bukanlah sumber serat kasar. Kangkung mempunyai kandungan serat kasar sebesar 27,9 - 42,3%, sedangkan kandungan serat kasar ketela sebesar 2,5-6,0% (Tillman dkk., 1991). Hasil perhitungan analisis proksimat serat kasar berdasarkan bahan kering pada pakan babirusa yang berupa campuran dari kangkung dan ketela sebesar 7,5153%.
Kecernaan serat kasar babirusa jantan (babirusa pada kandang B2 dan C2), lebih besar daripada sampel babirusa betina (babirusa pada kandang B1 dan B3). Dikatakan oleh Clayton (1996), babirusa jantan mempunyai berat sekitar 100 kg, sedangkan babirusa betina beratnya 30% lebih kecil. Perbedaan berat tubuh mengakibatkan adanya perbedaan dalam kebutuhan nutrien dan tingkat konsumsi pula. Hal ini diperjelas dalam keterangan Tillman et al.(1991) bahwa hewan dengan berat yang lebih tinggi membutuhkan energi yang lebih banyak. Pond et al.(2005) juga menambahkan bahwa tingkat konsumsi dapat mempengaruhi kecernaan pakan.
Kecernaan serat kasar babirusa pada kandang B2 tertinggi diantara sampel yang lain yaitu sebesar 89,86%. Pond, et al.(2005), mengatakan bahwa tingkat konsumsi dan umur dapat mempengaruhi hasil kecernaan. Babirusa pada kandang B2 berumur sekitar 7 tahun dan mempunyai ukuran tubuh yang paling besar dibanding yang lainnya. Babirusa ini selalu menghabiskan setiap pakan yang diberikan.
Kecernaan serat kasar Babirusa di kandang C2 sebesar 85,08% (tertinggi kedua setelah babirusa pada kandang B2). Babirusa di kandang C2 merupakan babirusa jantan dan yang termuda di antara yang lainnya (umur sekitar 2 tahun). Ukuran badan babirusa pada kandang C2 belum sebesar babirusa B2. Pond, et al.(2005) menyatakan jika umur dan tingkat konsumsi dapat mempengaruhi kecernaan hewan. Kecernaan serat kasar babirusa ini mungkin dapat meningkat jika telah mencapai umur yang lebih tua. Parakkasi (1995) menyatakan bahwa berat badan hidup hewan akan bertambah seiring dengan bertambahnya umur. Hewan dengan berat yang lebih tinggi, akan membutuhkan energi yang lebih banyak (Tillman et al., 1991).
Kecernaan serat kasar terendah didapatkan pada babirusa di kandang B1, sebesar 76,25%. Babirusa pada kandang B1 adalah babirusa betina dengan umur kurang lebih 8 tahun, dan merupakan yang tertua. Hal inilah yang mungkin menyebabkan hasil kecernaan serat kasarnya menjadi yang terendah. Sutarjo (2008) mengatakan bahwa fisiologi alat cerna berbeda berbeda pada setiap umur, sehingga apabila umur semakin tua kecernaan semakin menurun disebabkan oleh fungsi alat cerna yang tidak maksimal lagi, dan berujung pada tingkat kecernaan yang semakin menurun.
Faktor yang bisa dikaitkan lagi adalah jumlah pakan. Penambahan jumlah pakan yang dimakan mempercepat arus makanan dalam usus sehingga mengurangi kecernaan bahan pakan. Kebutuhan hidup pokok hewan biasanya digunakan perkiraan dalam mencoba pengaruh jumlah pakan terhadap kecernaannya (Tillman et al., 1991). Kecernaan tertinggi didapat pada jumlah konsumsi lebih rendah dari kebutuhan pokok. Hal tersebut mungkin akan sangat kontras jika melihat keadaan di lapangan, dimana tingkat konsumsi pakan dari babirusa pada kandang B1 juga terendah di antara sampel yang lain, namun mempunyai jumlah feses terbanyak dibandingkan lainnya. Pond et al (2005) mengemukakan bahwa pemanfaatan nutrien dapat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi. Bisa jadi dengan rendahnya tingkat konsumsi pakan akan berujung pada kecernaan serat kasar yang tidak begitu maksimal.
Babirusa di kandang B3 mempunyai hasil kecernaan serat kasar sebesar 82,46% dan merupakan hasil kecernaan serat kasar terendah kedua. Tingkat konsumsi hewan ini sama dengan babirusa pada kandang C2, hanya saja umur dari hewan ini sudah mencapai sekitar 5 tahun. Hasil kecernaan serat kasarnyapun tidak begitu jauh perbedaannya (82,46% pad B3 dan 85,08% pada C2).
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah kecernaan serat kasar pada pakan babirusa di KBS sebesar 83, 4% + 4,91. Saran yang dapat diajukan pada penelitian ini adalah mengaplikasikan penelitian ini pada tempat penangkaran babirusa lainnya dan melakukan penelitian kecernaan serat yang lebih lanjut seperti NDF dan ADF.
Ucapan Terima Kasih:
1.)Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Prof. Dr. Hj. Romziah Sidik, Ph.D., drh. atas kesempatan mengikuti pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, 2.)Dr. Anwar Ma’ruf, MKes., Drh. selaku pembimbing pertama dan Dr. A.T. Soelih Estoepangestie, Drh. selaku pembimbing kedua atas saran dan bimbingannya sampai dengan selesainya skripsi ini, 3.)Dr. Sri Hidanah, MSc., Ir. Selaku ketua penguji, Benjamin Chr. Tehupuring, MSi, Drh selaku sekretaris penguji dan E.Djoko Poetranto, Msi., Drh. selaku anggota penguji, 4.)Drs. Warsito dan Drh. Rahmat Suharta selaku perwakilan pihak Kebun Binatang Surabaya yang telah memberikan ijin penelitian.
Daftar Pustaka
Pond, W.G., Church, D.C, Pond, K.R., Schoknecht, P.A. 2005. Basic Animal Nutrition and Feeding 5th Edition. Wiley. USA.
Tillman A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Labdo Soekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Kelima. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Clayton, L.M. 1996. CONSERVATION BIOLOGY OF THE BABIRUSA. Babyrousa babyrussa, in SULAWESI,INDONESIA. [PhD thesis]. University of Oxford. Oxford.
Setyono, H., Kusriningrum R.S., Mustikoweni, Nurhajati, T., Sidik, R.B., Agustono, Arief, M., Al Arief, M.A., Lamid, M., Sahidu, A.M., Lokapirnasari, W.P. 2007. Teknologi Pakan Hewan, Analisis Proksimat dan Pengolahan Pakan. Bagian Ilmu Peternakan Lab Makanan Ternak Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar